Sunday, September 11, 2016

PENGORBANAN NABI IBRAHIM ALAIHIS SALAAM

PENGORBANAN NABI IBRAHIM ALAIHIS SALAAM



Saat senja menawan kala
langkah Ibrahim lemah terbata
raga kering kerontang penuh luka
dalam lubuk dadanya ada yang sirna

ketika sirna mengelupas rembulan
dan malu menyingkapkan tabir siang
benderang siang diwarna api mentari
lalu mentari lenyap karena tahu diri

diri yang akhirnya merendah tak berdaya
di hadapan Dzat yang tak pernah melenyap
terucap pasrah terjulur lisan yang kalah
mengakhiri pencarian dengan risalah kepasrahan

kisahmu, duhai Nabiyallah, kekasih Allah
jadi mutiara abadi membesarkan sejarah mekkah
apresiasi tertinggi dari Sisi Rahimiyah Allah
memposisikan dirimu menjadi keluarga Allah

duhai Nabiyullah Ibrahim alaihis salam
wahai Kekasih Allah atasmulah keselamatan
Pengorbananmu memilih Tuhan
merobek langit semesta alam

tak ada derita perjalanan pencarian
sedahsyat kisah perjalananmu yang panjang
tak ada pengorbanan terbesar sepanjang peradaban
selain mengabaikan kasih sayang pada anak tersayang

Engkaulah Nabi yang memerdekakan perbudakan
dari belenggu kasih sayang menuju kepasrahan pada Tuhan
tingginya keikhlasan, mulianya pengorbanan perasaan
menjadikanmu penuh kelayakan menjadi teladan

Salaamun 'alaika Ya Khaliilallaah, Ibraahiim.
Bandung, 11 September 2016
Selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1437 H
dipublikasikan di kompasiana
Read More

Saturday, September 10, 2016

AKU-LAH ZAMAN

AKU-LAH ZAMAN



inilah zaman
ketika semua menjadi transparan
tak ada lagi wilayah pribadi disembunyikan

itulah zaman
ketika informasi media menjadi rujukan
dan kitab suci para nabi sudah diabaikan

lihatlah zaman
ketika ruang dan waktu yang berceceran
mencabik bahagia dan derita bersamaan

dengarlah suara zaman
ketika kesalehan menjadi bahan tertawaan
dan keburukan menjadi sumber rujukan

perhatikan irama zaman
ketika sengketa menjadi ladang penghasilan
dan menutup rapat pintu-pintu keberkahan

Aku lah pemilik zaman
ketika manusia berebutan menjadi Tuhan
dan lupa pada sejarah awal mula ia diciptakan

Bandung, 11 September 2016
dipublikasikan di kompasiana
Read More

Friday, September 9, 2016

PESAN RASULULLAH SAW UNTUK MARIO TEGUH

PESAN RASULULLAH SAW UNTUK MARIO TEGUH


Saya lebih senang menyebut terjemahan Kitab Mukhtarul Ahaadits Nabawiyyah dengan sebutan Mutiara Hadits-hadts Nabi Pilihan. Kenapa saya menyebutnya mutiara? Alasan pertama sudah jelas sebab Kitab Hadits ini dijadikan rujukan di banyak pondok pesantren yang mempelajari Kitab Kuning. Yang kedua saya mengikuti pengajian kitab ini sudah lebih dari 10 tahun dan sampai tulisan ini dimuat, saya masih berada di bab Mim halaman 162.

Saya pun tidak ingin menyebut tulisan ini sebuah kebetulan, karena media manstream dan media sosial sedang sibuk-sibuknya meliput banyak kasus, termasuk di antaranya peristiwa reshufle kabinet dengan tokoh utama Sri Mulyani Indrawati dan Arcandra Tahar, Pilkada putaran kedua yang akan akan digelar pada tahun 2017 dengan tokoh utama Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama, kasus kematian Mirna yang menyeret Jesica menjadi tersangka. Tak ketinggalan pula tertangkapnya selebrita Reza Artamevia yang bersamaan dengan tokoh publik figur Gator Brajamusti yang keduanya tertangkap gara-gara narkoba.

Media kita memang sedang kebanjiran data berbagai kasus dan peristiwa, sehingga perannya sebagai penerus informasi ke hadapan pemirsanya bertambah tinggi. Dan kini media sedang getol-getolnya memberitakan peristiwa motivator ulung yang sudah menjadi selebrita media, siapa lagi kalau bukan Mario Teguh, yang dikenal selama bertahun-tahun dengan salam supernya.

Kembali pada kitab Mukhtarul Ahadits.pada halaman 162 tertulis sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukori dari Anas, yang artinya: “Barang siapa yang memberikan pengakuan kepada kedua orangtuanya, maka sungguh Allah akan memberi pengakuan padanya, dan barang siapa yang menampakkan kebencian kepada kedua orangtuanya, maka sungguh Allah akan menampakkan kebecian padanya.

Hadits ini berbicara tentang kisah kesuksesan seorang anak yang berani dan merasa rela, tulus dan ikhlas mengakui siapa pun orangtuanya, apakah ayah atau ibunya, tak peduli apakah mereka dalam kondisi kemiskinan, berpenampilan sederhana, atau bahkan compang camping pakaiannya, orangtua adalah orangtua yang harus diakui keberadannya, apa pun kondisinya.

Merujuk pada hadits tersebut, kisah Ario Kiswinar Teguh mendapat justifikasi yang sangat super pas pada kasus pengakuannya, dan semoga saja ia tidak menampakkan kebencian pada ayahanda yang meninggalkannya. Artinya pesan Rasulullah SAW kepada Ario Kiswinar Teguh sudah dimanifestasikan bahkan dipublikasikan di berbagai media.

Manusia memang diciptakan dengan seperangkat ujian yang melekat di sepanjang kehidupannya, dengan tujuan untuk melihat sejauhmana kualitas kepercayan dan keimanannya kepada Tuhannya. Apakah ujian itu akan menambah ketakwaannya serta rasa syukurnya atau akan menambah keingkarannya serta menjauhkan ia dari Tuhannya.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk memperkeruh suasana, tapi setidaknya untuk melihat berbagai kasus dan peristiwa anak manusia ketika ditimpa berbagi ujian dalam hidupnya.

Hadits lain yang populer menyatakan ridho Allah itu tergantung pada ridho kedua orangtua, dan kemurkaan Allah itu tergantung pada kemurkaan orangtua.

Pertanyaannya, apakah sebagai orangtua Mario Teguh akan dengan penuh ketulusan dan keikhlasan mengakui sepenuh kerdloan untuk mengakui bahwa Ario Kiswinar Teguh adalah anaknya, sehingga Allah akan juga memberikan keridhoan yang sama kepada Mario Teguh, seperti yang sudah Allah berikan kepada Ario Kiswinar Teguh?

Dan dua hari lagi kita akan masuk pada momentum hari raya Idul Qurban, hari dimana jiwa-jiwa yang mengaku beriman kepada Tuhannya, untuk bersedia berqurban, termasuk mengorbankan dan mengabaikan segala riuh rendah dan gegap gempita gemerlap fatamorgana dunia untuk digiring semuanya pada pengakuan akan kemahaakbaran Sang Pencipta.

Jawabannya, kita tunggu saja informasi terupdate perihal kisah selebrita media ini. Yang jelas kiprah media sebagai corong informasi menjadi lebih punya peran sangat penting untuk menggiring cerita ini pada ending yang bahagia. Semoga saja.

Salam rahmatan untuk semua pembaca.

Selamat Hari Raya Idul Qurban 10 Dzlhijah 1437 H

Bandung, 10 September 2016

dipublikasikan juga di Kompasiana

Read More

Wednesday, August 31, 2016

UNTUK ARTAMEVIA

UNTUK ARTAMEVIA



ada tanya mengemuka
ketika manusia menjadi lupa
pada rentang dinamika sejarahnya
sehingga ia larut dalam pesona

harus berapa kalikah menciptakan lara
ketika orang tercinta dipanggil Yang Kuasa
atau ketika usia semakin di ufuk senja
dan lupa untuk mensyukuri nikmat-Nya

ini bukan tentang prestasi selebrita
tapi lebih kepada menjadi seorang mulia
ketika sudah jatuh janganlah tertimpa tangga
sebab sakitnya akan meremukkan dada

aku tak kenal baik engkau siapa
aku hanya suka pada lagu yang engkau bawa
hentak irama dan bait-bait yang menjadi lirik manja
pernah membuat engkau menjadi sosok yang dipuja

rasanya sudah cukup rangkai cerita
yang menjerat selebrita ke dekam nista narkoba
lalu tiba-tiba nama Artamevia ada di dalamnya
ah dunia, sungguh daya pikatmu teramat mempesona

aku hanya bisa memanjatkan seuntai do'a
semoga Tuhan masih memberi kesempatan kedua
agar engkau tidak pernah menjadi pelupa
tentang kisah dunia yang fana dan sementara

Bandung, 01 September 2016
dipublikasikan di Kompasiana
Read More

Sunday, August 28, 2016

EKOSISTEM ALAM HANCUR BERANTAKAN

EKOSISTEM ALAM HANCUR BERANTAKAN



gumpalan hujan berarak perlahan
menyusup pori-pori di ketiak awan
angin meniupnya ke arah selatan
membawa jutaan sel keberkahan

petir dan halilintar beradu bersahutan
merobek memburaikan perut awan
saat waktu berada di antara sepenggalan "kun"
jadilah ia hujan berjatuhan, terjun turun

sebagian bumi nusantara kini gersang
setelah kebakaran melahap dedaun rindang
padahal ia dicipta sebagai temali bertautan
tersambung ke semesta dimensi mizan

hujan, mahluk yang setia pada titah Tuhan
ia penuh keikhlasan membuahi tetumbuhan
sawah, ladang, irigasi jadi penuh kemanfaatan
menjaga manusia dari bencana kepunahan

sedang manusia penuh keserakahan
demi kepuasan tak berhenti membakar hutan
untuk memenuhi kebutuhan permukiman
juga untuk meningkatkan laba dan keuntungan

ke manakah limpasan air hujan
jika area resapan terus menghilang
tak ada pohon penahan penyimpan cadangan
keberkahan pun berganti menjadi bencana mengerikan

manusia selalu tak mau disalahkan
malah menjadikah hujan sebagai kambing hitam
ketika ia memenuhi halaman rumah dan jalan-jalan
sehingga bencana banjir tak dapat dielakkan

padahal alam diciptakan penuh keseimbangan
untuk dijaga agar tidak punah lalu tenggelam
bukankah atlantis pernah menjadi simbol peradaban
sebab kedurhakaan mereka dipunahkan

bencana banjir dan kebakaran hutan
bukanlah semata murka dan kemarahan alam
ia menjadi alarm yang akan terus berbunyi
ketika manusia terus lupa diri

sebab bencana, flora rusak, fauna berang
ekosistem alam hancur berantakan
dan kerakusan terus membelenggu insan
menggerogoti bumi menunggu ledakan

Bandung, 28 Agustus 2016
dipublikasikan di Kompasiana
Read More